Wednesday, January 22, 2003

GURINDAM SETENGAH MAYAM

abu bakau mengendap lagi dalam
gelas bekas teh mawar hitam

entah sudah berapa kali kubunuh dendam
di tungku paru di jantung malam

tapi cinta di pucuk tiba, tuba yang mengulam
ah semayam rindu semayam

kukubur saja kau di balik sekam
atau kupagut selalu nisan tak bermakam

batam, januari 2003








Tuesday, January 21, 2003

GURINDAM SETENGAH MAYAM

abu bakau mengendap lagi dalam
gelas bekas teh mawar hitam
entah sudah berapa kali kubunuh dendam
di tungku paru di jantung malam
tapi cinta di pucuk tiba, tuba yang mengulam
ah semayam rindu semayam
kukubur saja kau di balik sekam
atau kupagut selalu nisan tanpa makam

batam, januari 2003







PRELUDE HUJAN

malam mengalun bulan
seperti lingkar bandana di pinggangmu
yang bermanik-manik arsir hujan
bulan mengalun: aku ...
ketika masih kauketatkan pagutmu
(tiada kuduga sebiru itu)
dengan cemas kanak
yang melipat kenangan
seruas origami: rumah-rumah kertas azali
begitu ganas musim mempecundangi kita
seperti para eksil yang terusir dari negerinya
tiada bertanya dari mana ke sana
kelak di negeri yang jauh itu
desis tak lagi piatu, kau masih yang dulu:
muallaf cinta dengan scarf menyentuh bahu

batam, januari 2003

Friday, January 17, 2003

PERPISAHAN

kutulis cintaku pada sehelai papirus
kau kutunggu, dalam rindu yang aus
adakah angin telah mengirimnya
pada sia sisa doa

batu-batu penuh lumut dari fragmen purba

lentik api menari di tapal batas ini
membakar burung-burung yang menyeberang sesekali

bahkan darah yang riam
sempurna diam dalam

di sana
awan tak bergerak memandangmu
mencumbui beranda

keranda
yang sebentar lagi tiba

batam, 180103
saujana romeo faza


ORTODOKSI

tubuh yang tergenang syahwatmu
: di situ syahadat kutalkinkan
kata-kata menjauh tanpa sauh
menggetarkan rima
tapi, sungguh, aku tak memilih khianat, sayang
cinta tak selamanya berpusar
di jarum jam yang selalu menusuk rusukku

bagai mao, kita berharap pada senjata
dan malam-malam dingin di klandestin
mungkin
tapi aku kini kaca
menyembunyikan serpih lilin
antara retak dan nyala

dari tubuhmu, puisi luruh tanpa sebenangpun kain
sayang, mengapa kau memilih menderita?

batam, 180103
saujana romeo faza



Semacam Pengantar:
Puisi di bawah ini menggelisahkan. Pertama, dengan sengaja terlibat dalam keterilhaman berlebih terhadap puisi ''Nostalgi=Transendensi'' karya Toeti Herati Noerhadi. Kedua, memberi dera psikologis pada batin saya karena terkesan sok tahu tentang penggal romantisme demonstrasi kawan-kawan mahasiswa di jalanan, sementara saya sendiri hingga kini masih dirunsingkan oleh rutinitas pekerjaan yang fucking boring. Tak berbuat apa-apa. Maafkanlah ... Aku hanya ingin berbagi cerita ... (SRF)


DEMONSTRASI=TRANSENDENSI
:pro mahasiswa

dari ruas-ruas
jalan
kau terima setrotoar pesan
menjaring cemas
matahari
dengan karton-karton bekas
membongkar pustaka
yang selama ini terlalu bodoh
untuk berdebu di kepala

kau mungkin telah bertahan
merisau keyakinan
mikropon, kawan, meleleh-leleh
dari keringat dan daki
mengapungkan kembali genangan bangkai
saudara-saudara kami

di jantungmu berdengung lagi
kawat berduri
merengkahkan sukma

pada lenganmu
kain putih kafan
membelit aorta

jangan lari sendiri
nanti peluru semakin merasa
telah membela bumi

seorang saja kemaruk
beratus generasi meludahi kuburnya
dalam kutuk

ngapa lena dalam yel-yel panjang
sebab untuk mencapai langit
dia yang diculik dan ditebas itu
tak mencari tangga nada

darahnya lebih dulu mengalir ke samudera
sebelum menjelma uap laut
yang mengangkasa
ke dinding-dinding megatruh

tak ada doa yang terlambat, katanya:
hujan tak langsung jatuh
simpul yang lama kau siapkan
untuk tali gantungan itu
tak sekali kebat

merdekakanlah ...


batam, 150102
saujana romeo faza


Monday, January 06, 2003

Philosophes

cuma misal yang lewat
melambaikan berkubur rasa enggan
yang mengekalkan hasrat
baiklah akan kukecam Nagasaki
Sakharov barangkali
yang terlalu merisaukan pelanggaran hak-hak azasi

daun-daun di nun menyelundup
ke sebalik perumpaan riuh angin
sayup-sayup kudengar jua Voltaire dan Rousseau
di ujung salon
membicarakan karma seorang lelaki
yang tengah berdiri
dalam bayang-bayang utopian dan puisi

tapi hanya tanya tanya tanya yang lintas
meninggalkan ambisi atau bahkan mungkin antusias
beban-beban kemanusiaan sejak abad 18
baiklah akan kuikuti holobis kuntul baris:
pembaruan yang mengharuskan harapan
di jalan-jalan kerontang yang pernah menyatukan doa dengan kata kata kata
bersama apapun sah
menyetubuhi ketakterhinggaan hampa

baiklah, baiklah, keasingan ini
mungkin hanya sisa mimpi semalam
kalau harus kutenggelamkan jua rindu
biarlah kukuliti dulu diri
meski tanpa catatan kaki
seperti Nietzche, Karl Marx bagai
mengurapi waktu dan menunggu
tuhan
sampai mati
sampai candu

98-02
saujana romeo faza



Hibahkan Satu

hibahkan satu, Muhammad, padaku
cinta yang senja
agar rumah-rumah kaca
memantulkan perih sua

hibahkan satu, Ahmad, cinta yang senja
agar selaksa mata kail meghunjam dada
darah kan jadi bambu, jelma pancing
padamu, aku gemburkan tanah
sebagai zikir cacing

walau jaring dunia meminta lelaba
penuh lalat dan lipas dan serangga di dalamnya
aku tetap merayumu
--seronok, seronoklah--
menghibah cinta yang senja

tengok, matahari hampir sempurna
di linangan ufuk jingga
hibahkan padaku
satu padamnya saja
jadilah

biar sinar segala

98-02
saujana romeo faza




Millenium

kupu dan rerama mengecup ubun darah
yang menggenang di jalanan
hujan masih belia
mengarsir peluru yang tiba sendiri
dari halaman
ibu yang telah lama menitipkan payung hitam itu
padaku, berkata:
''kalau Mami menjemputnya nanti
Mami sudah tak melihat kau membujang lagi.''

99-02
saujana romeo faza



Ramadan Aku Bertanya

aku bertanya
datang biru malammu
dengan sewirid neon
tapi mengapa selalu saja
angin bersiap menghisap
gugur laron

firmanmu sering menunjuk lebuh
tempat riuh menabal
dan diam batuku setubuh
berabad-abad telah kususun aspal
hanya seluruh nama keretakan
yang tergenapkan

aku bertanya, bertanya: mengapa dari sangkar bulan kudus
selalu berlepasan rindu yang kabus

02
saujana romeo faza



Ke Hadiratmu: Satu

1.
di liang anyir ini, luka membilangmu penuh rindu
aku belajar jadi seseorang yang melesat jauh
dari masa depan
seperti belajar menekan pelatuk
untuk sesuatu yang telah lama tembuk
Sysiphus, Sysiphus, aku mencium bau batu
berzikir di punggungmu

2.
angin memang selalu gusar
dan kita lahir dari tualang sangsi
memalsukan fana: perang tak berakhir
tak pernah akan berakhir
di ujung tarikh, orang-orang mengungkai kepedihan
meyisihkan doa yang terlalu kepayang
akan kemerdekaan abadi
di ujung tarikh, orang-orang mengungkah
rahim bunda
sambil sesekali mengokang senjata:
minta dilahirkan kembali
sebagai bayi yang ranggi dan tak berdosa

3.
demikianlah, bendera demi bendera kibar
menyanyikan lagu kebangsaan yang lapar
pada musim kemarau yang letih menerjemahkan debu
dengan bahasa-bahasa romantik
tak ada percakapan di sini: tak ada
kecuali tamasya sungkawa
bahwa kita harus punya tanah sendiri
menjaganya dengan apapun cara

4.
di lubang bacin inilah luka memanggilmu bertalu-talu
sebab tak ada yang tersisa pada biru nafas kita
kecuali gemetar kawat perbatasan
dalam hening sunyi
ditoreh kabut juga rerama

kecuali cinta yang tinggal gema
dalam kering perigi
menyudahi mimpi
menyudahi warna

02
saujana romeo faza



Segigil Rindu Kau Ketatkan

hujan belum jua reda dari malammu
seperti genangan sampah bunga plastik
di pucuk parit itu
kau ludah bayang bulan dengan kutuk
sisa doa semalam
masih tersimpan dalam mantel busuk

segigil rindu kau ketatkan
antara derak seng, paku tua
dan halte yang diam

angin memang telah membentang dena
memantul-mantulkan luka
yang belum selesai dibakar
tapi seseorang telah menyimpan bara di sebalik jas bekasnya
entah
padahal aku lama menunggu
unggun itu membeku, katamu

segigil rindu kau ketatkan
seperti menganyam derak seng dan paku tua
dihujan
hujan

entah
sudah berapa kantuk kau tunda
sekadar menunggunya
membalaskan dendam

02
saujana romeo faza



Roman Tak Selesai

aku mengarsir kapal-kapal ungu
di alismu yang ranjang
menepikan gelombang
derit engsel di pintu kabin
mengaliri hawa dingin
cintaku telah lama beku
di gudang-gudang ringkih itu, sayang
berdesakan di antara karung padi
erangan buruh dan riung bawang
tapi kapal-kapal ungu di sekujur alismu
masih saja memetakan debur
dari Punggur dan Sekupang
aku hibur jua pelabuhan tua di hatiku
bahwa esok mercusuar tak kan pernah berhenti menyala
datanglah
sesayat ranjang menanti kita
untuk meniupkan firman-firman lama
bacalah

aku mengerti
camar-camar perbani memang seharusnya
terbang tinggi
seperti juga aku harus memahami
mengapa kau biarkan rambutmu tergerai
di gerai-gerai plaza dan lampu-lampu trotoar
yang memendarkan luka

aku akan mengarsir debu
yang kini melekat di pita kepang itu
angin malam dini hari lalu
masih menyibak tengkukmu
mari biar kuseduh
aroma mayat yang gelisah
mencari kerandanya sendiri

01
saujana romeo faza



On

karpet teleh seret tidurku
seperti ujung gaun pengantin
yang menarik bangku-bangku gereja
genang kenang itu kini melantai:
ups, kabutkah atau kampung halaman
yang selalu terjaga
antara ladang tebu dan film-film biru
ah, tapi tak apa
malam kan segera mengeringkannya
setelah kuciptakan gugus-gugus
yang lebih biru di atas bantal
dengan bibirku: 5,0 mg nikotin, 19 mg tar
mataku, hamparan kebun ganja yang sayup
adalah kamp tahanan tawanan perang
di bukit pos jaga itu, kucuri cahaya bulan redup
mengintai jengkal demi jengkal rindu yang membangkang
wuih, perang...

house music, mickey mouse, aku haus
please, tolong tutup jalan pulang...

01
saujana romeo faza




Kipas Angin

berputar ia, di antara tingkap
angin tak terdengar, tak terbaca
pusaran itu tajam, mengarsir syahwat
ingin yang sakral: sakwasangka

kauusap tubuhku basah
kuisap baling-baling atas bukitmu
berdarah

sembilukah yang berkisar
atau panik terlanjur mencintaimu: barangkali
lewat arus dari langit-langit
kamar ini
engkau akan menyaksikan getar stalagtit
kelentit dan orgasme yang tak sampai

tapi tetap ingin kuhapus khianat
dengan sisa-sisa keringat
meskipun dendam masih berpeluh
pada masa silam yang kautuduh

teluh

kaujambak rambutku merah
kusamak anting-anting di selangkanganmu
ghirah

02
saujana romeo faza



Sembahyang, Perempuan

hari demi hati
dayung rakaat sampai selat
aku tak kenang lagi mula kesumat
bila cinta dimulai

ada kerling bulan diparut parit umur
kadang berkelebat jua giring-giring kaki betina
tapi bagai tanah yang dilampaui dedaun gugur
akulah ranting yang tak lagi merindu punca

kaukenangkah sekarat lukisan rumah bunda
yang diseberangkan gerimis senja
setelah sentak dari mimpi tenung anjing jantan
ke papak-papak purba terasing dari riuh jalanan

pada mulanya adalah perempuan

amuk yang jumbuh dengan akar
di sekujur dendam
dirajuk jalang yang jembut dan kelenjar
di sebuah dendam

aku tak ingat lagi tengah dosa
bila sembahyang dimulai
selama
Nya

02
saujana romeo faza



Benci Tapi Rindu

masih kuseduh sisa nafasmu
pada kecut sprei
di luar awan langsung menyerpih
saat matahari usai
tapi kenangan itu tak pernah hafal
bila cinta tumbuh di luka yang kekal

benci pun tahu: sepi ini melampau
sepi yang menderu pohon-pohon kemarau
mengapa sebab
oleh harap
ketika dikau pergi dengan sekuntum api
ketika kering dahanku hendak bakar diri

kubentang harap di konon-konon
mendulang malap dibasuh lanun
ada, memang, dendam terbantun
tapi kini tinggal sehuyung daun

ngejar embun

02
saujana romeo faza



Di Ruang Tamu, Gelas Retak Kau Berikan

o bulan yang mengerjap diparut parit
kutengok
sepi yang kian kecut esok
pada pintu tersingkap dan engsel berderit

di ruang tamu, gelas retak kauberikan
bukan perpisahan, katamu
tapi sualah yang menjijikkan
laron-laron terbakar di bawah pedih lampu
hari hujan

mengapa di pelipismu, selalu
kepayang lengang itu selalu menisik tindik
padahal nada-nada telah jatuh
di beranda: merangkai musik
kadang meregang jua gegas di lagu-lagu cadas
kadang menghentak entah: barangkali jazz, blues, mungkin rock
tapi aku tetap ingin belajar mencintaimu
dengan menghisap marijuana
dan menelan penderitaan seorang negro
dalam lukisan-lukisan kuno
van gogh, van gogh
inilah rindu dengan kesederhaan
menaruh sesobek telinga

02
saujana romeo faza
MASIH PERLUKAH KUTANYAKAN, TUHAN?

mengapa tak kau biarkan
laut di mataku ruah
ke dalam gelas yang ditoreh
burung-burung rumi
terbakar


mengapa tak kau biarkan
kabut di alisku pecah
digerindam pucuk salju meleleh
ke palung-palung bumi
terdampar


batam, 311202
Saujana Romeo Faza


UNTUK TAK MENGATAKAN SETIA
: dia yang begitu tiba-tiba


mengapa matamu selalu berdengung
kuat dalam lampu pucat itu
ketika rinduku berdesakan
bersama sayap-sayap laron terbakar
jatuh ke krah baju

harum lehermukah yang seperti hangus
seperti gentar

ah, aku masih pantas berkabung
rasanya

kubuka horden
hujan juga masih di sana
menghapus jejak
segalanya
menghapus esok
dan kau tiada

selebihnya adalah genangan angin
gerangan lain

menggali parit-parit air
mata
sebagai tempat terakhir
bunga-bunga

''abang, apakah nanti
aku kan menjelma bintang?''
''ya, ya. dan kau terbanting ke bumi
kita bercinta di loteng ...''


batam, 031202
saujana romeo faza



NUDES
: Nota untuk Desember


tidurlah
rebahkan alismu yang cermin
sebab di sana peri-peri menyerlah
dan dosa pun tak ingin

tebing hilang curam
puing dulang manikam
bila kau terpejam

gagak membuang dendam
malam kian dalam
bila kau terpejam

tidurlah
dengan mimpi yang sangat kau sayangi:
tikar pandan di ladang tebu
setelah film-film biru
''apakah semalam aku mendengkur, honey?''
aku tak mengaku
pagi pun begitu
entahlah. atau dusta
atau pura-pura mengembunkan bahagia
yang pasti ia tampak tak rela
bulan semalam menidurimu

tidurlah, rebahlah, mendengkurlah ...
hingga kau terjaga
aku kan tetap menjaga rahasia
kelam

kelamin


batam, 311202
saujana romeo faza




TADARUS MERAH
: imam samudera

menderaslah tadarusku, selalu

bagai karma hujan di mataMu:

dari laut pulang ke laut

kabut

runtuhkan rumah-rumah
pasir

yang mereka bangun sepanjang tamasya
pesisir

hanyutkan aku hanyutkan
sebagai musa

seperti pernah engkau pertemukan
dengan bunda yang duka

fir'aun, fir'aun
aku kan jilati amis darah

batam, 0212 02
saujana romeo faza



RETUR CINTA SEKUJUR CATUR

: laila, elma, ayu, tammi, riska, lainnya


bukan pamrih
bila kau ucap lagi cintamu
yang dulu pernah hamil tua
meregang, memerih ketuban
melahirkan kanak-kanak pion
yang kau elu menjaga raja kasihmu kelak

tapi hitam, tapi putih
kan tiba juga waktu
akhirnya terbaca: kau tak bahagia, ternyata
mengerang, di belakang,
setiap kali beri sayang
sudah, jatuhkan saja:
cumbui aku sehijau melon
atau pekikkan itu: skak!

barangkali hanya dalih
(apalagi yang lebih sembilu?)
sebab kau tak berhenti bertanya: mengapa
adakah yang tak sia-sia sesungguhnya
apakah setia
mengukur jejak kuda hutan
atau membangun benteng dari papan
pada tiap sekon
tak berjarak?

angin memang telah lerai, menyerpih
tapi burung-burung petang masih saja
menorehkan biru
seperti hujan akan selalu ada
mengilhami lumut dalam lumat ciuman
paralon
tua
tak retak

tak

batam, 301102
saujana romeo faza


SEKARAT RINDU, SEKERAT KAU


biarlah kini kukepayangi dulu
derit engsel yang luruh
di ujung sajadah itu
mungkin beban paling berat adalah rindu
perhentian masa kanak
ketika kau sapa gemuruh siak
antara cecak
juga daun-daun pintu

biarkanlah kucumbui dulu
gurindam yang mengeras
di pori tingkap itu
kerana entah pabila lagi
kuhirup angin yang khatam
di jala nelayan ini
ketika rahasia tersimpan
mengembarai mimpi
ke semua jauh
melempar sauh

biar, biarkanlah riuh kenangan menuba
melukai setiap igauku

aku kan selalu setia untuk tetap mengingat
karat tak karat

batam 02
saujana romeo faza

TERATAI
: bagi penakluk teguh


sekali pandang
tangkaimu jadi sepotong petang

tersangkut rindu yang lusuh
sungguh

pada lanskap merah disalib senja
kesabaran waktu terbakar
kolam hitam saga

tempat unggas-unggas berkaca
membincang cinta yang mekar
antara mitos tanda jasa dan sia-sia

sekali mengapung
padamu jua sajakku relung:

diri yang dibesarkan lumpur
adalah persinggahan ikan-ikan ketam

dalam salam

dan pelipur

batam 02
saujana romeo faza


SEBELUM AKU MEMBUNUHMU, IBU

-satu-

ibu
kukirim surat ini pada segala ababil
di langit yang penuh humus
sungguh, aku hanya tak mau
daun-daun rindu ini hangus
sebagai tumbal
sebelum kau baca tuba batu
bermekaran di hatiku


-dua-

telah kuketam waktu sepanjang jejak
sepanjang air matamu, ibu:
memanggul doamu kembali
aku kini berdiri di beranda
penuh genangan bangkai
antara masa silam berderai
dan peperangan hari ini
yang mesti dilerai

kelopak musim gugur menggamit igauku
tentang semayam musik masa depan
kusematkan ajal yang mematung
pada puncak karang
agar segera dilamun badai
dan pecah terserak
ke segala pantai
mengapa Rabi'ah Adawiyah ingin menutup neraka
dengan tubuhnya
mengapa seseorang telah menutup usia
saat cinta bergetar di seluruh asma

bimbang jam, wahai, merah nafasmu
telah melarutkan persinggahan
sementara cuaca yang gaduh
kian menuntunku menghunus perlawanan

sujudku berdarah
ditikam tangismu, ibu
yang tak pernah basah


-tiga-

aku berkeras untuk tak berdusta
dengan sejarahku sendiri, ibu
yang aus dan diselubungi kabut
pernah rahangku patah menyebut namamu
sedang igaku berderak
digulung ular Sakati Muna

aku tak berdusta
untuk mencintaimu begitu rupa
walau hutan, sungai, segalanya
telah menyeret bangkaimu yang pengap
agar senantiasa kudekap
aku benci berdusta
dari nista pada kusta di tubuhmu, ibu
sepasang dadamu yang picak
tak boleh kubayangkan
sebagai buah ranum
bergelayut di tali kutang berenda
lemakmu hangus mendengus darahku
yang telah lama tumpah di kuala
sedang para kelenjar di selangkanganmu
terus saja mencucuk ari-ariku
yang tertanam sebagai jadah

tapi bukankah pantang seorang lelaki berdusta?


dengan perih yang masih tersisa
aku menakik dadamu
menampung susu yang tak lagi meleleh
sementara jejak darah di lingkar putingmu
telah kusirami garam
sebelum anjing dan ular dan lipan
memburumu dengan bisa terjulur

karena bagi mereka
ratapmulah ibu dari segala

-empat-

ibu
balaslah suratku
jemputlah letihku
sayatlah dagingku
lemparkan buat iblis di kubur-kubur:

sebelum aku lebih dulu membunuhmu
sambil menenggak anggur!

batam 02
saujana romeo faza


ASBAK SATU BABAK

pernah aku berpikir
hidup ini tak ubahnya setubir asbak
terbuka: menerima begitu saja segala
dengan bentangan dada
atau menunggu cuma
takdir tembakau menyelesaikan cerita
tanpa harus terbakar
jengkal-jengkal nikotin dan tar

lalu ketika akhirnya
puntung-puntung menumpuk
dan lubang telah penuh
tinggal soal memilih belaka:
bersiap lusuh
atau menyaksikan manusia
menjauh

pbaru-batam 02
saujana romeo faza


PHILOSOPHES

cuma misal yang lewat
melambaikan berkubur rasa enggan
yang mengekalkan hasrat
baiklah akan kukecam Nagasaki
Sakharov barangkali
yang terlalu merisaukan pelanggaran hak-hak azasi

daun-daun di nun menyelundup
ke sebalik perumpaan riuh angin
sayup-sayup kudengar jua Voltaire dan Rousseau
di ujung salon
membicarakan karma seorang lelaki
yang tengah berdiri
dalam bayang-bayang utopian dan puisi

tapi hanya tanya tanya tanya yang lintas
meninggalkan ambisi atau bahkan mungkin antusias
beban-beban kemanusiaan sejak abad 18
baiklah akan kuikuti holobis kuntul baris:
pembaruan yang mengharuskan harapan
di jalan-jalan kerontang yang pernah menyatukan doa dengan kata kata kata
bersama apapun sah
menyetubuhi ketakterhinggaan hampa

baiklah, baiklah, keasingan ini
mungkin hanya sisa mimpi semalam
kalau harus kutenggelamkan jua rindu
biarlah kukuliti dulu diri
meski tanpa catatan kaki
seperti Nietzche, Karl Marx bagai
mengurapi waktu dan menunggu
tuhan
sampai mati
sampai candu

pbaru-batam 98-02
saujana romeo faza


HIBAHKAN SATU

hibahkan satu, Muhammad, padaku
cinta yang senja
agar rumah-rumah kaca
memantulkan perih sua

hibahkan satu, Ahmad, cinta yang senja
agar selaksa mata kail meghunjam dada
darah kan jadi bambu, jelma pancing
padamu, aku gemburkan tanah
sebagai zikir cacing

walau jaring dunia meminta lelaba
penuh lalat dan lipas dan serangga di dalamnya
aku tetap merayumu
--seronok, seronoklah--
menghibah cinta yang senja

tengok, matahari hampir sempurna
di linangan ufuk jingga
hibahkan padaku
satu padamnya saja
jadilah

biar sinar segala

pbaru-batam 98-02
saujana romeo faza



MILLENIUM

kupu dan rerama mengecup ubun darah
yang menggenang di jalanan
hujan masih belia
mengarsir peluru yang tiba sendiri
dari halaman
ibu yang telah lama menitipkan payung hitam itu
padaku, berkata:
''kalau Mami menjemputnya nanti
Mami sudah tak melihat kau membujang lagi.''

pbaru-batam 99-02
saujana romeo faza



RAMADAN AKU BERTANYA

aku bertanya
datang biru malammu
dengan sewirid neon
tapi mengapa selalu saja
angin bersiap menghisap
gugur laron

firmanmu sering menunjuk lebuh
tempat riuh menabal
dan diam batuku setubuh
berabad-abad telah kususun aspal
hanya seluruh nama keretakan
yang tergenapkan

aku bertanya, bertanya: mengapa dari sangkar bulan kudus
selalu berlepasan rindu yang kabus

pbaru-batam 02
saujana romeo faza



KE HADIRATMU: SATU

1.
di liang anyir ini, luka membilangmu penuh rindu
aku belajar jadi seseorang yang melesat jauh
dari masa depan
seperti belajar menekan pelatuk
untuk sesuatu yang telah lama tembuk
Sysiphus, Sysiphus, aku mencium bau batu
berzikir di punggungmu

2.
angin memang selalu gusar
dan kita lahir dari tualang sangsi
memalsukan fana: perang tak berakhir
tak pernah akan berakhir
di ujung tarikh, orang-orang mengungkai kepedihan
meyisihkan doa yang terlalu kepayang
akan kemerdekaan abadi
di ujung tarikh, orang-orang mengungkah
rahim bunda
sambil sesekali mengokang senjata:
minta dilahirkan kembali
sebagai bayi yang ranggi dan tak berdosa

3.
demikianlah, bendera demi bendera kibar
menyanyikan lagu kebangsaan yang lapar
pada musim kemarau yang letih menerjemahkan debu
dengan bahasa-bahasa romantik
tak ada percakapan di sini: tak ada
kecuali tamasya sungkawa
bahwa kita harus punya tanah sendiri
menjaganya dengan apapun cara

4.
di lubang bacin inilah luka memanggilmu bertalu-talu
sebab tak ada yang tersisa pada biru nafas kita
kecuali gemetar kawat perbatasan
dalam hening sunyi
ditoreh kabut juga rerama

kecuali cinta yang tinggal gema
dalam kering perigi
menyudahi mimpi
menyudahi warna

jkt-batam 02
saujana romeo faza



SEGIGIL RINDU KAU KETATKAN

hujan belum jua reda dari malammu
seperti genangan sampah bunga plastik
di pucuk parit itu
kau ludah bayang bulan dengan kutuk
sisa doa semalam
masih tersimpan dalam mantel busuk

segigil rindu kau ketatkan
antara derak seng, paku tua
dan halte yang diam

angin memang telah membentang dena
memantul-mantulkan luka
yang belum selesai dibakar
tapi seseorang telah menyimpan bara di sebalik jas bekasnya
entah
padahal aku lama menunggu
unggun itu membeku, katamu

segigil rindu kau ketatkan
seperti menganyam derak seng dan paku tua
dihujan
hujan

entah
sudah berapa kantuk kau tunda
sekadar menunggunya
membalaskan dendam

batam 02
saujana romeo faza



ROMAN TAK SELESAI

aku mengarsir kapal-kapal ungu
di alismu yang ranjang
menepikan gelombang
derit engsel di pintu kabin
mengaliri hawa dingin
cintaku telah lama beku
di gudang-gudang ringkih itu, sayang
berdesakan di antara karung padi
erangan buruh dan riung bawang
tapi kapal-kapal ungu di sekujur alismu
masih saja memetakan debur
dari Punggur dan Sekupang
aku hibur jua pelabuhan tua di hatiku
bahwa esok mercusuar tak kan pernah berhenti menyala
datanglah
sesayat ranjang menanti kita
untuk meniupkan firman-firman lama
bacalah

aku mengerti
camar-camar perbani memang seharusnya
terbang tinggi
seperti juga aku harus memahami
mengapa kau biarkan rambutmu tergerai
di gerai-gerai plaza dan lampu-lampu trotoar
yang memendarkan luka

aku akan mengarsir debu
yang kini melekat di pita kepang itu
angin malam dini hari lalu
masih menyibak tengkukmu
mari biar kuseduh
aroma mayat yang gelisah
mencari kerandanya sendiri

batam 01
saujana romeo faza


ON

karpet teleh seret tidurku
seperti ujung gaun pengantin
yang menarik bangku-bangku gereja
genang kenang itu kini melantai:
ups, kabutkah atau kampung halaman
yang selalu terjaga
antara ladang tebu dan film-film biru
ah, tapi tak apa
malam kan segera mengeringkannya
setelah kuciptakan gugus-gugus
yang lebih biru di atas bantal
dengan bibirku: 5,0 mg nikotin, 19 mg tar
mataku, hamparan kebun ganja yang sayup
adalah kamp tahanan tawanan perang
di bukit pos jaga itu, kucuri cahaya bulan redup
mengintai jengkal demi jengkal rindu yang membangkang
wuih, perang...

house music, mickey mouse, aku haus
please, tolong tutup jalan pulang...

batam 01
saujana romeo faza


KIPAS ANGIN

berputar ia, di antara tingkap
angin tak terdengar, tak terbaca
pusaran itu tajam, mengarsir syahwat
ingin yang sakral: sakwasangka

kauusap tubuhku basah
kuisap baling-baling atas bukitmu
berdarah

sembilukah yang berkisar
atau panik terlanjur mencintaimu: barangkali
lewat arus dari langit-langit
kamar ini
engkau akan menyaksikan getar stalagtit
kelentit dan orgasme yang tak sampai

tapi tetap ingin kuhapus khianat
dengan sisa-sisa keringat
meskipun dendam masih berpeluh
pada masa silam yang kautuduh

teluh

kaujambak rambutku merah
kusamak anting-anting di selangkanganmu
ghirah

batam 02
saujana romeo faza



SEMBAHYANG, PEREMPUAN

hari demi hati
dayung rakaat sampai selat
aku tak kenang lagi mula kesumat
bila cinta dimulai

ada kerling bulan diparut parit umur
kadang berkelebat jua giring-giring kaki betina
tapi bagai tanah yang dilampaui dedaun gugur
akulah ranting yang tak lagi merindu punca

kaukenangkah sekarat lukisan rumah bunda
yang diseberangkan gerimis senja
setelah sentak dari mimpi tenung anjing jantan
ke papak-papak purba terasing dari riuh jalanan

pada mulanya adalah perempuan

amuk yang jumbuh dengan akar
di sekujur dendam
dirajuk jalang yang jembut dan kelenjar
di sebuah dendam

aku tak ingat lagi tengah dosa
bila sembahyang dimulai
selama
Nya

batam 02
saujana romeo faza


BENCI TAPI RINDU

masih kuseduh sisa nafasmu
pada kecut sprei
di luar awan langsung menyerpih
saat matahari usai
tapi kenangan itu tak pernah hafal
bila cinta tumbuh di luka yang kekal

benci pun tahu: sepi ini melampau
sepi yang menderu pohon-pohon kemarau
mengapa sebab
oleh harap
ketika dikau pergi dengan sekuntum api
ketika kering dahanku hendak bakar diri

kubentang harap di konon-konon
mendulang malap dibasuh lanun
ada, memang, dendam terbantun
tapi kini tinggal sehuyung daun

ngejar embun

batam 02
saujana romeo faza



DI RUANG TAMU, GELAS RETAK KAU BERIKAN

o bulan yang mengerjap diparut parit
kutengok
sepi yang kian kecut esok
pada pintu tersingkap dan engsel berderit

di ruang tamu, gelas retak kauberikan
bukan perpisahan, katamu
tapi sualah yang menjijikkan
laron-laron terbakar di bawah pedih lampu
hari hujan

mengapa di pelipismu, selalu
kepayang lengang itu selalu menisik tindik
padahal nada-nada telah jatuh
di beranda: merangkai musik
kadang meregang jua gegas di lagu-lagu cadas
kadang menghentak entah: barangkali jazz, blues, mungkin rock
tapi aku tetap ingin belajar mencintaimu
dengan menghisap marijuana
dan menelan penderitaan seorang negro
dalam lukisan-lukisan kuno
van gogh, van gogh
inilah rindu dengan kesederhaan
menaruh sesobek telinga

batam 02
saujana romeo faza


LAGU GERMO

ini kabutku
kuserahkan sehelai demi sehelai
pada pucuk-pucuk gunung di matamu
sekadar menangkup magma
yang bersemu merah itu
duhai, debar gugup dan malu-malu
sebab sekejap lagi
tarian akan dimulai
merentak sekujur risalah
gairah
mencium ubun batu
dan lentik bangkai

tjpinang-batam 02
saujana romeo faza