Friday, January 17, 2003

PERPISAHAN

kutulis cintaku pada sehelai papirus
kau kutunggu, dalam rindu yang aus
adakah angin telah mengirimnya
pada sia sisa doa

batu-batu penuh lumut dari fragmen purba

lentik api menari di tapal batas ini
membakar burung-burung yang menyeberang sesekali

bahkan darah yang riam
sempurna diam dalam

di sana
awan tak bergerak memandangmu
mencumbui beranda

keranda
yang sebentar lagi tiba

batam, 180103
saujana romeo faza


ORTODOKSI

tubuh yang tergenang syahwatmu
: di situ syahadat kutalkinkan
kata-kata menjauh tanpa sauh
menggetarkan rima
tapi, sungguh, aku tak memilih khianat, sayang
cinta tak selamanya berpusar
di jarum jam yang selalu menusuk rusukku

bagai mao, kita berharap pada senjata
dan malam-malam dingin di klandestin
mungkin
tapi aku kini kaca
menyembunyikan serpih lilin
antara retak dan nyala

dari tubuhmu, puisi luruh tanpa sebenangpun kain
sayang, mengapa kau memilih menderita?

batam, 180103
saujana romeo faza



Semacam Pengantar:
Puisi di bawah ini menggelisahkan. Pertama, dengan sengaja terlibat dalam keterilhaman berlebih terhadap puisi ''Nostalgi=Transendensi'' karya Toeti Herati Noerhadi. Kedua, memberi dera psikologis pada batin saya karena terkesan sok tahu tentang penggal romantisme demonstrasi kawan-kawan mahasiswa di jalanan, sementara saya sendiri hingga kini masih dirunsingkan oleh rutinitas pekerjaan yang fucking boring. Tak berbuat apa-apa. Maafkanlah ... Aku hanya ingin berbagi cerita ... (SRF)


DEMONSTRASI=TRANSENDENSI
:pro mahasiswa

dari ruas-ruas
jalan
kau terima setrotoar pesan
menjaring cemas
matahari
dengan karton-karton bekas
membongkar pustaka
yang selama ini terlalu bodoh
untuk berdebu di kepala

kau mungkin telah bertahan
merisau keyakinan
mikropon, kawan, meleleh-leleh
dari keringat dan daki
mengapungkan kembali genangan bangkai
saudara-saudara kami

di jantungmu berdengung lagi
kawat berduri
merengkahkan sukma

pada lenganmu
kain putih kafan
membelit aorta

jangan lari sendiri
nanti peluru semakin merasa
telah membela bumi

seorang saja kemaruk
beratus generasi meludahi kuburnya
dalam kutuk

ngapa lena dalam yel-yel panjang
sebab untuk mencapai langit
dia yang diculik dan ditebas itu
tak mencari tangga nada

darahnya lebih dulu mengalir ke samudera
sebelum menjelma uap laut
yang mengangkasa
ke dinding-dinding megatruh

tak ada doa yang terlambat, katanya:
hujan tak langsung jatuh
simpul yang lama kau siapkan
untuk tali gantungan itu
tak sekali kebat

merdekakanlah ...


batam, 150102
saujana romeo faza